Pages

BeatMaster Radio

Free Shoutcast HostingRadio Stream Hosting

Mar 29, 2007

Penelitian Terbaru: Jakarta Terancam Tenggelam

Sebagian wilayah Jawa Barat, Banten dan hampir seluruh DKI Jakarta akan tenggelam. Demikian salah satu kesimpulan penelitian yang memetakan kemungkinan akibat naiknya permukaan laut dan badai siklon.

Penelitian yang juga mengidentifikasi populasi yang terancam itu akan diterbitkan 14 April mendatang di jurnal Environment and Urbanization.
Laporan itu disusun oleh Gordon McGranahan dari International Institute for Environment and Development (Britania) bersama rekannya Deborah Balk dan Bridget Anderson dari City University of New York dan dari Columbia University.
Penelitian memperlihatkan sepersepuluh penduduk bumi, atau 634 juta orang tinggal hanya pada berjarak 10 meter dari pinggir laut. Mereka semua terancam tenggelam jika es kutub bumi mencair, di antaranya sebagian wilayah Jawa Barat, Banten dan hampir seluruh DKI Jakarta akan terendam.

Laporan itu juga mengajak untuk melakukan tindakan menghadapi pemanasan global yang diperkirakan memicu kenaikan permukaan laut dan timbulnya cuaca ekstrem. Tindakan yang dibutuhkan menyangkut penegakan peraturan dan insentif ekonomi, yang keduanya sangat bergantung pada kemauan politik, pendanaan dan sumber daya manusia.
“Pembangunan perkotaan di zona pesisir mengakibatkan dampak berbagai risiko,” kata McGranahan kepada pers di Jenewa, Rabu (28/3). “Orang jadi terancam dari arah laut berupa badai, banjir dan siklon serta merusak ekosistem yang rentan di antaranya hutan bakau yang melindungi pesisir.”

Perkiraan kenaikan permukaan laut dan makin seringnya badai dilakukan oleh badan antar pemerintah bulan lalu, yakni Panel on Climate Change’s (IPCC). Perkiraan mereka permukaan akan naik puluhan sentimeter pada akhir abad ini.
Deborah Balk, salah seorang peneliti laporan terbaru ini, menjelaskan IPCC tidak mengkaitkan urbanisasi dengan keharusan kawasan ini beradaptasi terhadap perubahan iklim. Studi ini mengangkat pentingnya apa yang mereka sebut 3M, yakni mitigasi, migrasi, dan modifikasi.
“Sudah terlambat untuk hanya mengandalkan pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebagai mitgasi terhadap perubahan iklim, walau ini memang keharusan,” jelas McGranahan.
Ia menambahkan bahwa mitigasi dengan melakukan migrasi bagi mereka yang masuk ke zona bahaya akan menjadi keharusan dan sukar dilaksanakan serta biayanya sangat tinggi.
Bridget Anderson peneliti lain juga mengungkapkan kota-kota terbesar dunia, dengan penduduk di atas 5 juta, seperlimanya berada di zona pesisir.

Ini artinya kota seperti Jakarta harus mempersiapkan diri terhadap ancaman yang dipetakan ketiga peneliti.
Pembuatan peta ini dilakukan dengan analisis basis data GRUMP (Global Rural-Urban Mapping Project) dalam skala perinci disertai data ketinggian permukaan berasal dari NASA melalui Satellite Radar Topography Mission, dan juga digunakan data Bank Dunia mengenai pendapatan negara-negara.
Hasil peta penyebaran dan ekonomi ini menunjukkan bahwa banyak negara dengan zona 0 sampai 10 meter dari pesisir kebanyakan berada di Asia. Dari 180 negara dengan daratan rendah di zona pesisir 130 di antaranya memiliki daerah urban besar di zona itu. Negara-negara berkembang yang lebih banyak terancam oleh perkiraan ini. Sebanyak 21 persen populasi urban berada di negara berkembang dan masuk di zona berbahaya.

(Adiseno, Sinar Harapan 28 Maret 07)

0 comments: